PERANG SUKU LANI, HARGA BAYAR KEPALA YANG FANTASTIS KINI MASIH LESTARI, ANTARA KEKUATAN DAN TANTANGAN BAGI PEMDA

0

Pers Release No: 120/Prokompim/IX/2021

Mulia- Sejak pagi sejumlah masyarakat sibuk menyambut tamu dari kelompok bertikai guna menyiapkan tempat pedamaian di Lapangan Alun-Alun Ilu, Selasa (7/9) untuk mediasi Perjanjian Kesepakatan perang suku di Wilayah II atau dalam istilah lani “Wim eku nogorak me, yogondak lambunggwi”.

Tepat pukul 09.00 WIT rombongan Forkopimda tiba di Distrik Ilu menuju Kantor Distrik. Hadir diantaranya, Bupati Puncak Jaya Dr. Yuni Wonda bersama, Ketua TP PKK, Ny. Ursula Wonda, Ketua DPRD Zakaria Telenggen bersama anggota, Sekda Tumiran, S. Sos, MAP didampingi Ketua DWP Hj. Manikem, Dandim 1714/PJ Letkol Inf. Rofi Irwansyah bersama Ketua Persit KCK Kodim dr. Angky, Wakapolres Kompol Irianto John, serta Pejabat Eselon II dan III dilingkungan Pemda Puncak Jaya. Memandu acara adat, Asisten II Esau Karoba, S. Pak, M. Si serta Protokoler SETDA.

Acara perdamaian dikemas dalam acara adat asli Dani oleh petugas acara. Dari sejak tiba di Ilu, sampai berlangsungnya acara harus mengikuti tata aturan adat yang tidak boleh dilanggar bahkan oleh tamu yang datang jelas salah seorang tokoh adat. Hal ini agar diharapkan demi suksesnya perdamaian, percaya tidak percaya jika melanggar maka ada konsekuensi yang akan diterima baik itu jatuh sakit sampai pada kematian sanak keluarga.

Saat memasuki tempat acara, Bupati disambut kepala perang Absen Geley dengan pengalungan kalung anggrek taring babi atau dalam istilah suku lani “inggen yirip pugwi”.

Kedua belah pihak yang hadir, terbagi dalam kubu atas dan bawah. Ribuan masyarakat yang memenuhi terbagi dalam dua kelompok besar. Bupati selaku pemerintah nampak duduk ditengahnya. Dua batang Kayu ditancapkan lalu digantung noken tanda acara siap dimulai.

Ratusan masyarakat yang hadir baik dari pihak pelaku maupun pihak korban nampaknya sangat antusias untuk menghadiri pelaksanaan kegiatan perdamaian pada hari ini. Hal ini sendiri merupakan sebuah tradisi ketika usai perang, masyarakat yang sepakat berdamai tidak serta merta berdamai untuk mendapatkan satu titik temu dengan menyamakan persepsi. Setelah didahului dengan patah panah dan belah kayu doli (cara yang digunakan untuk penyelesaian masalah itu biasanya menggunakan upacara perdamaian bakar batu dengan mengorbankan babi) kini dilakukan upacara bayar kepala sebagai akhir dsri segala peperangan.

Beberapa kali, ratusan orang itu berlari mengitari lapangan dan sesekali berhenti serta bernyanyi. Para kepala perang membawa busur serta panah dan memimpin kelompoknya. Mereka kemudian duduk di sisi-sisi lapangan untuk kemudian berdiskusi mencapai kesepakatan untuk perdamaian.

Tak berapa lama, perwakilan dari masing-masing kelompok mendekat dan bersalaman. Air mata pun berjatuhan dari raut wajah orang Papua yang terkesan keras dan liat itu. Suasana haru menyelimuti dan membuat siapapun yang ikut bersama di dalamnya juga ikut terharu. Peristiwa ini disaksikan oleh Dandim 1714/PJ Letkol Inf. Rofi Irwansyah dan Wakapolres Kompol Irianto John.

Menurut masyarakat, pada umumnya perdamaian harus diikuti beberapa tahapan secara adat. Ada 3 tahapan adat penting yang harus dilakukan sebelum melakukan perdamaian. Pertama adalah adat belah kayu doli. Dimana kayu tersebut dibelah dan diikat kemudian pihak atas dan pihak sebelah saling menyebrang setelah itu masing-masing mencari/mengumpulkan harta dan benda untuk membayar kepala yang telah menjadi korban, kemudian langkah kedua adalah bakar batu untuk laki-laki dan setelah itu akan terbiasa duduk makan bersama dan melakukan perdamaian. Selanjutnya adat patah panah dan bayar kepala perdamaian yang dilakukan hari ini.

Acara dibuka dengan Ibadah singkat oleh Ketua Klasis GIDI Yalu Ilu Pdt. Teri Eliba diikuti oleh segenap yang hadir. Acara sempat berhenti menunggu pihak dari distrik waegi, Kalome dan tingginambut yang masih dalam perjalanan ke lokasi.

Dalam pembacaan surat pernyataan oleh kedua Pihak yakni mewakili pihak pelaku Tekiles Wonda dan Yokiles Wonda disepakati beberapa poin diantaranya : 1. Pihak Pelaku sepakat menyelesaikan konflik secara adat dan kekeluargaan, 2. Secara jujur mengakui segala perbuatan dan meminta maaf kepada seluruh keluarga korban, 3. Bertanggung jawab atas segala kerugian baik korban materil maupun korban jiwa, 4. Berjanji tidak mengulangi pelanggaran yang melanggar hukum dan melepas, segala tuntutan hukum, 5. Berjanji untuk menjaga perdamaian di wilayah Puncak Jaya, 6. Sepakat untuk membuat, menghapus segala bentuk atribut dan perlengkapan perang atau segala sesuatu yang berbau peperangan, 7. Siap mendukung dan bersatu padu serta mengawal Pembangunan dan Pemerintahan yang damai, 8. Apabila kemudian hari terbukti masih melakukan tindakan tersebut, maka bersedia untuk langsung diproses secara hukum yang berlaku tanpa ada rasa keberatan maupun tekanan lain dari pihak kerabat.

Dikisahkan bahwa dalam kejadian peristiwa perang suku pertama kali terjadi adalah dari Distrik Kalome sehingga membuka pembicaraan harus dari sana, sedangkan yang menutup pembicaraan harus dari Ilu ujar Yoleki Gire.

Dalam momen berharga itu, salah seorang perwakilan kepala perang dsri Distrik Ilu, sangat haru dan mengungkapkan terima kasih yang mendalam dengan menyatakan dukungan politik untuk mendukung Bapak Bupati Dr. Yuni Wonda untuk menuju ke periode kedua. “Keputusan yang Bupati ambil sudah sangat pas, Bapak Bupati anak daerah duduk di Kursi sudah pas tidak ada orang lain. kami siap dukung Bapak untuk Kedua kalinya” Ujarnya dibarengi tepukan meriah yang hadir.

Beberapa saat sebelum pelaksanaan acara adat, Bupati Puncak Jaya yang merupakan putra Asli Suku Dani mengungkapkan bahwa proses Bayar Kepala sampai duka sangatlah tinggi yang dipatok, besarnya biaya yang harus dibayarkan oleh kelompok pelaku harus ditanggung oleh kelompok lain menjadi kewajiban yang kadang membutuhkan waktu lama untuk terkumpul sempurna.

Jumlah yang sedemikian besar, mau tidak mau harus ikut dialokasikan oleh pemerintah daerah semata-mata agar roda pemerintahan dan pelayanan publik serta situasi keamanan dapat kembali normal.

Kendati adat budaya adat yang masih menjadi kekuatan sebagai jalan keluar pemecahan masalah yang singkat. Serta secara langsung mememutus segala tuntutan Hukum dan persoalan HAM yang muncul dikemudian hari selesai dengan adat dalam sehari Bupati melihat masih ada tantangan yang harus disikapi.

“Kedepan kami bersama Ketua DPRD dan jajaran anggota akan memPerda-kan ketentuan duka sampai bayar adat, sehingga lebih teratur dan realistis. Budaya nenek moyang kami sampai hari ini masih terus dijaga dan gigih dipertahankan, namun tantangannya adalah, tidak sedikit pengorbanan biaya dan waktu bahkan nyawa harus melayang. Selain itu aktivitas pelayanan publik dan masyarakat ikut terganggu.”Tutup Bupati.

#Prokokompim

Share.

About Author

Staf Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Puncak Jaya. Instagram : @arfan_febriyan

Leave A Reply