CALON PILOT ASAL MUARA TELAH LAHIR, SEBUAH REFLEKSI, OTSUS PAPUA SUDAH BERHASIL ATAU BELUM?

0

Pers Release No : 143 /PROKOMPIM/XI/2021

Mulia-Ada yang menarik ditengah Acara peresmian Pasar Rakyat Muara beberapa hari lalu, Kamis (4/11). Pasalnya dalam kesempatan dialog Bupati Puncak Jaya bersama masyarakat Distrik Muara hadir salah seorang pemuda gagah berbaju putih dengan lencana wing disayap bersama Ketua KNPI Temin Enumbi. Ialah Joshua Enumbi, Putra asli Muara yang kini tengah menyelesaikan studi penerbang sipilnya.

Ketua KNPI tersebut merasa bangga dan perlu untuk menyampaikan keberhasilan Pemuda Puncak Jaya dalam berbagai bidang. Ia mengatakan bahwa dalam proses pengkaderan pemuda selama kepemimpinan Bupati Yuni Wonda cukup banyak yang berhasil. Menurutnya sebagai kader GIDI sekaligus sebagai generasi muda Muara, dirinya bersama pemuda lain perlu mengambil contoh dari Bapak Bupati agar semangat dalam mengejar mimpi.

Selain itu menurutnya, peran pemerintah Provinsi Papua dan Pemda Puncak Jaya dalam memajukan daerah khususnya aspek pembangunan sumber daya manusia lewat pemberian beasiswa melalui Otonomi Khusus Papua sudah banyak memberikan bukti kemajuan.

“Dalam barisan ini, kami tidak menyebut barisan kader terbaik tapi kami mencoba berusaha yang terbaik, karena kita manusia tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan hanya milik Tuhan” ungkap temin.

Secara gamblang, Temin menyebutkan segelintir pemuda asal Distrik Muara telah berhasil menjadi Pilot. Dirinya mengaku bangga lahir dan tumbuh di daerah yang setiap harinya dilalui oleh pesawat terbang untuk masuk ke Mulia itu bisa menyumbangkan 3 pemuda terbaik dari Sekolah Penerbangan/Pilot. “Kita bisa lihat salah satunya Maikel Wonda yang sudah dahulu menjadi pilot dan mendatangani MOU di Kanada, sedangkan dua lainnya masih status mahasiswa dalam persiapan wisuda dan Lefi Telenggen serta Joshua Enumbi ini” bangganya.

Ditemui awak media, Joshua mengungkapkan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya dan Provinsi Papua yang telah memberi beasiswa melalui Dana Otsus. “Terima kasih kepada Bapak Bupati Yuni Wonda dan Bapak Gubernur Lukas Enembe saya bisa berkesempatan ikut dan menyelesaikan sekolah penerbangan ini. Sangat bermanfaat sekali Dana Otsus ini, karena bagi kami putra/i Asli Papua bisa terus menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi dan bisa menggapai cita-cita. Dan bukan hal yang mudah dan instan”jelas nya.

Dirinya menceritakan proses dari rekrutmen dan pendidikan sudah dilaluinya. Banyak suka duka dan ilmu yang diterimanya. Diakhir perbincangan, Joshua berharap kepada para adik-adik dan mahasiswa Papua pada umumnya agar terus bersemangat. “Adik-adik yang telah menerima beasiswa agar digunakan sebaik mungkin untuk menyelesaikan kuliahnya, karena kesempatan tidaklah datang dua kali dan kembali lagi kedaerah untuk membangun dan memajukannya. Untuk pemerintah daerah dan provinsi Dana Otsus lebih ditingkatkan dan dipantau serta dievaluasi. Jangan sampai putus, sehingga nanti bisa lebih menjangkau lebih banyak lagi penerimanya bagi generasi Papua kedepan” tambahnya.

Selaku pemuda Muara yang juga menempati posisi Kabag Ortal Setda Puncak Jaya, Temin menuturkan bahwa jikalau contoh teladan ini benar diaplikasi oleh seluruh pemuda Puncak Jaya, maka kita tidak akan kehilangan harapan. Kedepan Puncak akan lebih maju lagi. “Keberhasilan di dalam Alkitab kalau ada 9 buah roh, salah satu buah Roh yang bisa kita petik adalah kepemimpinan bapak Bupati, sekali lagi saya sangat bersyukur dan berterimakasih atas pengkaderan Bupati selama ini, Ungkap temin di akhir katanya.

Momentum ini sendiri sejalan dengan visi Bupati Yuni Wonda yang beberapa hari lalu sengaja mengumpulkan para guru untuk mengevaluasi para guru yang mengajar di segenap sekolah pelosok di distrik. Bupati mengaku bahwa 3 tahun kepemimpinannya telah habis hanya untuk perang suku. Kini dirinya berharap dengan situasi pemulihan pasca konflik. Para guru khususnya dari CPNS 2013/2018 dapat kembali mengajar dengan cara apapun agar punya motivasi belajar.

“Mereka (generasi Puncak Jaya) masih muda, kemarin mengalami trauma psikologi yang berat, sekarang tugas berat para guru adalah bagaimana mengajak mereka kembali bersekolah lagi. Jangan sampai kita menyesal 10 -15 tahun kemudian karena kelalaian kita hari ini membiarkan mereka tidak dididik dengan baik. Bagaimana dengan Perilaku dan etika mereka sebagi pemimpin nanti. Kita masih belum terlambat” Pungkas Bupati dalam Ruang kerja bersama jajaran Dinas P&K beberapa waktu lalu.

Patut disadari bahwa, budaya dan adat istiadat yang berurat dan berakar sangatlah sulit dilepaskan dari paradigma berfikir seseorang. Sehingga terkadang ikut mengatur perilaku dan bertindak dalam kehidupan khususnya dalam dunia pendidikan di pegunungan tengah.

Marten Kafiar selaku salah seorang pengajar SMK mengakui hal itu “Sebagai contoh kalau ada duka dari keluarga kita tidak bisa larang anak-anak untuk tidak bersekolah karena ada urusan keluarga, akan tetapi itu bisa berlangsung berminggu-minggu, belum lagi kalau keluarga lain ada lagi yang duka. Disatu sisi, hal itu tentu bisa menghalangi anak-anak untuk serius menerima ilmu disiplin mengikuti pelajaran, namun disisi lain ini adalah budaya. Ini menjadi tantangan bagi kita para guru untuk bagaimana mungkin memajukan generasi Papua” jelasnya. Martin menganggap peran keluarga sebagai sekolah pertama juga ikut mengambil peran itu.

Inilah segelintir soal rumit yang sedang dihadapi oleh Pemimpin kita, Kehadiran program Otsus dengan berbagai kekuatan dan kelebihannya tentu masih harus berhadapan dengan berbagai tantangan yang tidak bisa diselesaikan dalam satu malam. Sebuah proses besar dan memakan waktu panjang menuntut pengorbanan dan kesabaran untuk mencapai tujuan.

Akan tetap menjadi kemustahilan jika hanya menunggu berpangku tangan apalagi menjadi tokoh intelektual dalam media sosial dengan adu mulut dengan penafsiran masing-masing. Perlu kekuatan bersama, berdamai dengan diri sendiri dan orang lain untuk hal besar tentu sulit. Mustahil Papua apalagi Puncak Jaya akan maju jika terus menerus digempur hanya dari sesama kita sendiri. Masih bercokol ego dan keengganan untuk duduk karena masih ada kepentingan pribadi dan kelompok.

Mari kita dukung Otsus Papua dengan lapang dada, Mari kita ambil peran mendorong generasi Puncak Jaya dan Papua sadar dan haus akan pendidikan. Dengan semangat Tumbuh dari budaya berkembang dengan pendidikan bangun daerah, Karena “kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi”.

#ProkompimPJ #Puncakjaya #papuadamai #OtsusPapua

Share.

About Author

Staf Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Puncak Jaya. Instagram : @arfan_febriyan

Leave A Reply